Seabirds and Lighthouses Galore on the Isle of May

JAKARTA|AP_Di bawah ini adalah kisah penyiksaan yang dialami Nezar Patria, aktivis prodemokrasi, yang diculik tim yang diperintahkan Prabowo Subianto (ketika itu Danjen Kopassus), pada Maret 1998:
“Celana saya dibuka dengan paksa sehingga tinggal celana dalam dan baju kaos saja. Saya langsung didudukkan pada sebuah kursi lipat, borgol dibuka namun sebelah tangan saya diborgol pada besi kursi. Saya merasa berhadapan dengan sebuah meja dan ada seseorang diseberang sana melontarkan pertanyaan dengan cukup keras . . .
“Lalu saya merasakan sebuah pukulan keras di rahang saya dan diikuti dengan puluhan pukulan lain.
“Mereka mengulangi pertanyaannya, dan saya jawab tidak tahu. Lalu saya mendengar ada suara perintah untuk mengambil alat setrum. Sebuah benda terasa menempel di betis dan paha saya, dan sebuah aliran listrik yang cukup kuat menyentak seluruh sendi tubuh saya.
“Saya berteriak ‘Allahu akbar!’ sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Aliran listrik itu menyerang bertubi-tubi, sehingga tubuh dan kursi yang saya duduki bergeletar.
Saya merasa sebuah tendangan keras menghantam dada saya hingga saya terjengkang ke belakang dan kursi lipat tempat saya duduk jadi ringsek.. mereka memposisikan velbed saya secara terbalik. Kepala saya di bawah sementara kaki di atas, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Seseorang bahkan membungkam mulut saya dengan tumit sepatu sampai bibir saya pecah, karena saya berteriak keras ‘Allahu akbar’ ketika aliran listrik itu begitu gencar seperti meluluhlantakkan sendi-sendi tulang saya.”
Apa yang diungkapkan Nezar itu bukan fiksi. Kesaksian itu terpublikasi secara luas, dan bisa dibaca di http://aksarasahaja.wordpress.com/2011/02/10/kesaksian-nezar-patria-seputar-kasus-penculikannya/
Bukan hanya Nezar yang bersaksi disiksa sekeji itu. Catatan kesaksian para aktivis yang diculik pada tahun 1997-1998 juga bisa diakses di berbagai sumber.
Kisah ini perlu dipublikasikan lagi untuk memberi informasi pada publik bahwa penculikan para aktivis prodemokrasi pada 1998 bukan saja melibatkan aksi ‘penghilangan dengan paksa’, namun juga penyiksaan tiada tara. Dengan tipe penyiksaan semacam itu memang masuk di akal ada korban penculikan yang terbunuh dan tidak diketahui nasibnya sampai sekarang.
Namun yang lebih penting lagi, kisah ini perlu diangkat lagi untuk mengingatkan publik bahwa Prabowo, yang saat ini menjadi calon presiden Indonesia, adalah komandan yang bertanggungjawab atas penculikan dan penyiksaan ini.
Rakyat Indonesia perlu tahu bahwa Prabowo, 15 tahun yang lalu, pernah memimpin aksi penculikan dan penyiksaan orang-orang seperti Nezar, dan karena itu ada kejahatan kemanusiaan yang masih perlu dipertanggungjawabkan olehnya. Apa yang dialami Nezar dan kawan-kawannya tidak terjadi di masa lampau yang jauh. Nezar dan kawan-kawan disiksa pada 1998.
Nezar adalah salah satu dari 23 aktivis demokrasi yang dihilangkan secara paksa oleh aparat negara menjelang kejatuhan Soeharto. Sembilan dari 23 orang itu – termasuk Nezar – dibebaskan tanpa kehilangan nyawa. Tigabelas lainnya hilang sampai sekarang, termasuk penyair Widji Tukul. Satu orang ditemukan tewas.
Nezar Patria bukanlah teroris – sebagaimana yang digambarkan misalnya oleh Bondan Winarno, aktivis Gerindra. Dia adalah lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada 1997 yang sejak masa mahasiswa secara berkelanjutan menentang pemerintahan Soeharto yang dikenal didunia sebagai salah satu pemerintahan terkorup di dunia.
Semasa mahasiswa, Nezar aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Jamaah Shalahuddin UGM (1990-1991) dan Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (1992-1996).
Pada periode 1990an, rakyat Indonesia yang sudah tak tahan lagi dengan kepemimpinan Soeharto yang otoriter, fasis dan korup melakukan perlawanan yang terus mengalami percepatan. Pada masa itulah lahir kelompok-kelompok mahasiswa seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Saat diculik, Nezar adalah sekretaris umum SMID.
Pada 1997 dan 1998, pemerintahan Soeharto berusaha menghantam balik untuk menghancurkan gerakan pro demokrasi itu setelah sebelumnya sukses melakukan breidel majalah Tempo, Detik dan Editor (1994) dan pengobrakabrikan markas PDI (27 Juli 1996).
Menjelang Pemilu 1997 dan menjelang Sidang umum MPR 1998, dilakukan aksi pembersihan aktivis prodemokrasi. Alasan klise yang dikemukakan: aksi pembersihan itu perlu dilakukan untuk mengamankan proses Pemilu dan SU MPR yang, tentu saja pada intinya, akan memberi jalan bagi penunjukan Soeharto untuk kembali menjadi Presiden.
Seperti diungkapkan, tercatat 23 aktivis hilang di kedua kesempatan itu. Dan fakta sejarah mengungkapkan bahwa Prabowo berperan dalam aksi kejahatan HAM tersebut.
Saat ini tim Prabowo berusaha membersihkan nama Prabowo dari masa lalu yang hitam itu dengan menunjukkan fakta bahwa Prabowo tidak pernah dipecat dari kesatuan militer Indonesia. Tim Prabowo saat ini menunjukkan surat pemberhentian resmi Prabowo yang ditandatangani Presiden Habibie pada 1999 sebagai bukti bahwa Prabowo tidak pernah diberhentikan secara tidak hormat.
Tim Prabowo bahkan menunjukkan bahwa saat ini Prabowo tetap menerima uang pensiun kurang dari Rp. 4 juta. Menurut Tim Prabowo, ini semua merupakan bukti bahwa Prabowo adalah korban fitnah. Menurut mereka, Prabowo tidak bersalah dalam kasus penculikan 1997-1998.
Tentu saja, itu bukanlah bukti yang cukup untuk membersihkan nama Prabowo.
Prabowo jelas bersalah dalam peristiwa penangkapan para aktivis. Dewan Kehormatan Perwira yang dibentuk khusus untuk menangani kasus penculikan, mengeluarkan rekomendasi pada pimpinan ABRI untuk memberhentikan Prabowo dengan alasan bahwa Prabowo terbukti bersalah memerintahkan penculikan.
Rekomendasi DKP tersebut memang tidak pernah dipublikasikan. Namun kesimpulan tersebut diungkapkan oleh anggota Dewan Kehormatan Perwira, Agum Gumelar. Itu juga dibenarkan oleh Panglima ABRI di masa itu, Wiranto.
Kalau itu kurang, yang mengakui Prabowo memang bersalah dalam hal penculikan adalah ayahanda Prabowo sendiri, Soemitro Djojohadikusumo dalam wawancara dengan majalah Tempo. (lihat http://tentangps.blogspot.com/2009/09/prof-sumitro-djojohadikusumo-menja… ).
Prabowo yang ketika itu adalah Danjen Kopassus memang memerintahkan anak buahnya di Kopassus untuk menculik para aktivis. Pimpinan Tim Mawar – nama yang diberikan pada tim penculik – adalah Mayor Bambang Kristiono yang sekarang menjadi operator politik Prabowo di Gerindra dan memiliki posisi kunci di perusahaan milik Prabowo.
Mahkamah Militer telah memberikan sanksi beragam pada Tim Mawar yang beranggotakan 11 orang tersebut. Mahkamah Militer memang menyelamatkan Prabowo karena Mayor Bambang Kristiono berdalih bahwa penculikan dan penyiksaan itu dilakukan atas dasar inisiatif mereka sendiri tanpa sepengetahuan Danjen Kopassus Prabowo.
Karena aksi ‘pasang badan’ Mayor Bambang Kristiono tersebut, Mahkamah Militer tak pernah memanggil Prabowo.
Masalahnya, pengakuan Mayor Bambang Kristiono tentang inisiatif sendiri itu sangat meragukan. Dewan Kehormatan Perwira sendiri menyimpulkan bahwa Prabowo bersalah. Dan kalau Prabowo memang tidak bersalah, mengapa pula Presiden Habibie memberhentikan Prabowo pada usia 47 tahun?
Untuk melengkapi cerita, belakangan Pius sendiri mengakui bahwa lama sesudah huru-hara 1998 selesai, ia bertemu dengan Mayor Bambang Kristiono yang meminta maaf dan menyatakan bahwa tindakannya di saat itu adalah sekadar ‘menjalankan perintah’. Dalam hal ini, siapa pula yang bisa memerintahkan Tim Mawar kecuali komandannya sendiri, Prabowo Subianto?
Dengan kata lain, apapun yang dilakukan Tim Prabowo saat ini, hampir tidak mungkin membersihkan Prabowo dari tuduhan pelanggaran HAM ketika ia menjadi Komandan Kopassus di masanya.
Bahkan yang perlu juga dicatat, yang dilakukan Prabowo denga Tim Mawar adalah bukan saja menghilangkan orang secara paksa, alias menculik, melainkan juga menyiksa para aktivis dengan cara biadab.
Lebih jauh lagi, mereka bukan saja menyiksa tapi juga mungkin sekali juga bertanggungjawab atas kematian mereka yang sampai sekarang belum ditemukan.
Tim Prabowo selalu menyatakan bahwa Prabowo dan Tim Mawar hanya bertanggungjawab atas penculikan sembilan orang yang masih hidup. Ini pun meragukan. Pius Lustrilanang, korban penculikan yang sekarang bergabung dengan Gerindra, menyatakan ketika ia ditahan selama delapan bulan sempat berkomunikasi dengan sejumlah korban penculikan yang hilang sampai sekarang, yakni: Yani Afri, dan Soni.
Dengan kata lain, Pius yang diculik oleh Tim Mawar berada di tempat tahanan yang sama dengan tiga aktivis lainnya. Jadi sangat mungkin ketiga orang tersebut juga diculik oleh Tim Mawar. Dan dengan melihat kekejaman yang dilakukan terhadap para korban penculikan, sangat mungkin bahwa ada korban-korban yang disiksa sampai tewas.
Karena itu, adalah sia-sia Tim Prabowo berusaha membersihkan nama Prabowo dari kejahatan HAM 1997-98. Prabowo jelas bertanggungjawab. Yang harus dijawab adalah, kalau benar Prabowo hanya menjalankan perintah, siapakah orang yang memerintahkan Prabowo? Dan sama pentingnya, kalau memang bukan Tim Mawar, siapa yang bertanggungjawab atas 14 korban lainnya?[sumber:http://www.indonesia-2014.com%5D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s